Kejadian itu tidak akan perna kulupakan...Peristiwa ini berlangsung ditahun 2004 disaat mantan petinju juara Asia-Pasifik (OPBF ) Sikat Pasaribu yang menjadi Promotor tinju Profesional menghubungi saya. Sikat memberitahukan bahwa ia akan menggelar tinju profesional perebutan sabuk emas bang Yos (Sutiyoso, gubernur DKI ) dan perbaikan peringkat nasional badan tinji KTI. Sikat Pasaribu meminta saya untuk menjadi Anauncer Ring ( MC Tinju ) awalnya saya menolak karena masih banyak orang yang memiliki kemampuan dibanding saya,apalagi saya seorang Pendeta yang hubungannya jauh sekali dengan dunia tinju. Tak hentinya sikat Pasaribu membujuk saya dengan alasan bahwa suara saya mikrophonis, dan perna memiliki latar belakang penyiar radio. Dengan berat hati saya menerima tawaran teman saya sikat pasaribu, walau hati saya gundah karena saya kurang memahami istilah dalam dunia tinju, dan ini kesempatan yang harus saya coba. Sikat memberitahukan bahwa gelar tinju akan berlangsung minggu malam dalam rangka HUT DKI dan juga HUT RI. Tiba pada hari yang ditentukan, Minggu Pagi harinya saya masih memimpin Baptisan anak di gereja Oikoumene Batalyon 202 Bekasi.Setelah memimpin Sakramen Baptisan saya langsung datang ketempat pagelaran tinju , karena saya perlu banyak bertanya dan diadakan gladi-resik sebab akan ditayangkan TVRI secara LIVE. Saya marah besar terhadap sikat, dalam hati saya bila bertemu pasti akan saya tinju dia sampai KO, wah ini acara besar dan diliput TVRI segala, Sambil bersungut-sungut takut gagal dan salah dan ini mempermalukan saya, apalagi ada TVRI yang tidak sesuai dengan perjanjian yang dibicarakan kepada saya. Dengan berdoa dan meminta pertolongan kepada Tuhan saya kembali optimis dan pasti bisa, selain itu Sikat dan Komisi Tinju Indonesia memberikan semangat dan motivasi kepada saya. Saat waktunya tiba , saya menjalankan tugas saya, dari pertandingan ke pertandingan dan saya berperan sebagai Anouncer Ring (MC Tinju ) bekerja dengan baik, banyak orang menduga saya sudah berpengalaman.Hingga larut malam acara itu berakhir dengan baik. Saya tereperanjat dan baru ingat tas saya dimana ? Sebab didalam tas itu berisikan jubah, Alkitab, Kidung Jemat saya simpan di bawah ring. Saya lemas ! pasti tas itu hilang, mungkin bagi orang lain isi dan tas itu tak berguna. cari dan terus kucari tapi tidak ketemu, dan saya bertanya kepada promotor tinju sikat Pasaribu barangkali ia tahu keberadaan tas itu. Sikat Pasaribu dan Polisi yang sat itu ada tertawa , Sikat menceritakan waktu pertandingan berjalan, supaya penonton tidak panik, Tim gegana Polri telah mengamankan sebuah tas yang berada dibawah ring, maklum saja karena pada sat itu terjadi ledakan bom dan ancaman bom dimana-mana.K etika tim gegana membuka tas saya, dan ternyata tidak ada bom, yang ada hanya jubah,alkitab, Kidung jemat. Tim gegana tertawa terpingkal-pingkal apalagi diantara polisi gegana ada yang beragama Kristen, mereka menanyakan kepada panitia dan panitia menjelaskan bahwa tas itu milik saya. Komentar Polisi gegana yang Kristen mengatakan : saya tak menyangka Anouncer Ring (MC Tinju) adalah seorang Pendeta, bahkan Polisi yang orang Batak mengatakan Pula: Wah... tidak bertentangan pak pendeta !, tetapi ada juga yang memuji pendeta yang membumi dan cinta olahraga. Peristiwa itu menjadi pengalaman berharga bagi saya, tetapi juga terkadang menjadi kebanggan bahwa pendeta tidak hanya bisa dimimbar, tetapi juga bisa di Ring tinju Nasional. Hingga saat ini Sikat Pasaribu menjuluki saya sebagai : Pendeta petinju !.<\blockquote>
Sabtu, 24 Oktober 2009
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar