Namanya Sukarjo, orang menyapanya Mbah Sukarjo pensiunan tentara dengan pangkat terahir Sersan Mayor. Menjelang tujubelasan tahun ini raut Mbah sukarjo muram, ia menatap bendera merah putih yang berkibar dihalaman rumahnya dengan hati yang gundah. Berbeda pada tahun yang lalu setiap menjelang HUT RI, Mbah karjo semangat dan ia bangga menjadi orang Indonesia dan pelaku sejarah. Ia berjuang dalam pembebasan Irian Jaya, pejuang seroja, ditugaskan di Tim-tim dan juga di Aceh. Banyak bintang penghargaan yang diberikan negara atas pengabdiannya untuk bumi pertiwi. Enam bulan yang lalu Mbah karjo terserang stroke ringan dan kakinya harus diseret untuk berjalan dan menggunakan tongkat. Mbah karjo murung bukan karena penyakit Strokenya, tetapi ia gundah akan tinggal dimana. Karena rumah yang ia tinggali ini adalah milik negara milik pasukan elite yang merupakan pasukan Mbah Karjo bertugas waktu aktifdulu, Pihak yang bewenang telah mengultimatum agar rumahnya dikosongkan karena akan ditempatkan prajurit yang masih aktif bertugas. Rumah dinas yang sekarang ditempatkan Mbah karjo berada dipinggiran jakarta ini, memiliki sejarah yang tak terlupakan. tigapulu tahun ia berada dirumah itu, pahit manisnya masih terasa. Apalagi sepeninggalan istrinya yang telah meninggal dua tahun yang lalu, Sekarang Mbah karjo di temani oleh anak bungsunya, dua anaknya sudah berumah tangga dan tidak tinggal bersamanya lagi. Mbah Karjo menyadari betul bahwa rumah yang ia tinggali ini adalah rumah negara, dan ia juga menyadari serta iklas untuk keluar dari komplek itu. Tetapi kenangan, banyak cerita atas rumah nya yang type 45 ini. Kegundahan Mbah Karjo dan teman-temannya seperjuangan adalah ia terkadang mendapat intimidasi dari juniornya, bahkan terkadang lampu dikomplek nya sering hidup, sering mati mungkin juga supaya penghuni keluar dari komplek itu. Aksi demo warga komplek yang diliput media menggambarkan kepedihan yang mereka alami dimasa tuanya. Sosok Mbah Karjo dan juga teman pejuang yang lain tidak mengharapkan banyak apa yang perna mereka lakukan untuk membela pertiwi , ketika mereka berjuang mereka melakukan dengan pengabdian dan keiklasan. Yang mereka perjuangakan saat ini adalah para veteran dihargai. Mereka meminta ketika mereka keluar dari komplek itu ada konvensasi atau berikan rumah yang pantas bagi mereka. Para veteran menangis dimana ia akan tinggal? para veteran dan juga keluarganya berharap apa yang ia berikan kepada negara tidak sebanding dengan apa yang ia perjuangkan. Apakah pemerintah jatuh miskin bila menyediakan rumah utuk mereka ? Sedangkan mereka juga mengeluh masalah kesehatan. Dengan askes ia berobat, pelayanan di rumah sakit pun tidak paripurna, obat yang di berikan juga obat generik itupun mengantri berjam-jam supaya dapat obat. Mbah karjo kami generasi muda dengan ketulusan hati mau mengucapkan terimakasih atas perjuangan Mbah karjo dan teman-teman, tanpa Mbah Karjo kami tidak bisa maju seperti ini. Mbah karjo hanya meminta lanjutkan perjuangan, jangan sia-siakan kami. 64 tahun Indonesia merdeka jangan lupakan karya pejuang negeri ini sebab bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pahlawannya. Dirgahayu indonesiaku, merdeka...walau Mbah karyo belum merdeka untuk mendapatkan rumah !
Diperbarui sekitar 2 bulan yang lalu · · Suka
Tidak ada komentar:
Posting Komentar