Minggu, 25 Oktober 2009

Tuan Ringo

Nunga Sahat... Nunga sahat..." Terdengar teriakan orang-orang yang menunggu kedatangan kami. Mereka menyambut kami dengan begitu antusias. Bersamaan dengan itu, hujan turun dengan sangat derasnya. Aroma basah dari air hujan yang menyirami bumi sungguh memberi kesegaran dan kesejukan bagi kami, yang cukup lelah setelah melakukan perjalanan jauh dari Pahae ke tempat ini.

Mereka menyambutku dengan penuh haru, menyalamiku dan berebut untuk membelai kepala dan menggendong Raja Dapoton, Anakku. Inilah kampung halaman Suamiku. Urat, Samosir. Tempat ia lahir dan menghabiskan masa kanak-kanak, yang tidak pernah dia ceritakan kepadaku.

"Cantik kali Boru Sitompul ini..." terdengar bisik-bisik di antara mereka setelah mereka tahu aku berasal dari keluarga Sitompul. Tentu saja aku cantik. Kalau tidak, mana mungkin saudara kalian mau menikah denganku. Kataku dalam hati karena senang mendengar ucapan mereka.

Aku teringat Pertama kali aku melihatTuan Ringo, Suamiku. Lelaki tampan dengan postur tinggi dan gagah, yang memberi kesan sangat berwibawa. Namun dalam keseharian sangat sopan dan ramah, sehingga dia dapat dengan mudah bergaul dan memngambil hati seluruh penduduk di desa kami. Dia juga dapat diandalkan dalam menjaga keamanan desa kami dari serangan-serangan pengganggu dari luar kampung kami.

Aku mengagumi dan jatuh hati pada pemuda itu. Aku senang melihat senyumnya saat menyapaku jika kami berpapasan di jalan. " Mau ke mana, ito?" Sapanya sambil tersenyum. Ah... Tuan Ringo. Tampan kali dia. Sejak saat itu aku selalu berkhayal untuk bisa selalu dekat dengannya dan di panggil hasian olehnya.

Akhirnya kami saling jatuh cinta dan menikah. Kami memiliki kehidupan yang sangat bahagia. Di saat senja, kami selalu bercakap-cakap di beranda rumah sambil menikmati matahari terbenam. Kami membicarakan banyak hal. Dari hal-hal yang biasa terjadi sehari-hari sampai rencana-rencana kehidupan kami ke depan. Tapi entah mengapa, suamiku tidak pernah mau bercerita tentang keluarganya dan masa lalunya. Ia selalu mengelak dan berusaha mengalihkan pembicaraan ke topik yang lainnya. Aku dapat merasakan ada sesuatu yang di sembunyikannya. Tapi tidak apa, dia adalah suami yang baik. Dan itu cukup bagiku.

Aku sering melihat Suamiku sedang termenung sambil menatap ke arah ujung jalan menuju DanauToba. Sepertinya ada sesuatu yang sangat dalam yang sedang di pikirkannya. Sesuatu yang tidak pernah di ceritakan kepadaku. Aku tahu ada sesuatu yang di sembunyikannya, Sesuatu yang ingin dia simpan sendiri. Tapi tidak apa bagiku. Yang penting dia tetap suami yang baik bagiku.

Sampai suatu hari, tidak lama setelah kelahiran Raja Dapoton anakku, datang beberapa orang tamu ke rumah kami yang mengaku sebagai Abang dari Tuan Ringo, Suamiku. Aku terkejut bercampur haru. Ternyata suamiku memiliki keluarga, bukan orang sebatang kara yang tanpa asal-usul. Segera ku panggil suamiku untuk menemui mereka. Tanpa di sangka-sangka suamiku menyangkal hubungan persaudaraan dengan mereka. Tapi aku tahu dia berbohong. karena aku melihat ada rasa senang bercampur rasa haru di matanya. Mungkin inilah salah satu kesombongan pria Batak. Mereka malu untuk mengaku rindu kepada saudaranya.


Tahulah aku sekarang, ternyata hal inilah yang selama ini di sembunyikan suamiku. Ternyata ia berselisih paham dan terlibat pertengkaran dengan abangnya, yang akhirnya membuat ia meninggalkan kampung halamannya di Urat dan merantau sampai ke desaku ini.

Di sampaikan maksud kedatangan mereka untuk membawa pulang kembali Tuan Ringo ke kampung halamannya di Samosir. Setelah pembicaraan yang cukup panjang, akhirnya di putuskan bahwa yang akan ikut ke Samosir adalah aku dan Raja Dapoton, Anakku. Sedangkan Tuan Ringo akan menyusul kemudian karena masih ada yang harus di kerjakan di desa kami.

Aku bersyukur telah sampai di tempat ini. Kampung halaman Suamiku, Tempat di mana ia lahir dan bertumbuh Sehingga aku bisa mendapat kesempatan untuk mengenal lebih jauh mengenai keluarga besar suamiku. Dan tentu ini juga baik bagi Raja Dapoton, Anakku, karena dia ia akan tahu dan mengenal akarnya, tempat darimana sesungguhnya dia berasal.

Semoga Raja Dapoton, anakku dapat bertumbuh menjadi anak yang baik dan menjadi orang yang bermanfaat hingga menjadi kebanggan bagi keluarga besarnya. Bisa membawa damai dan kesejukan bagi banyak orang, seperti hujan yang turun memberi kehidupan dan kesegaran bersamaan dengan kedatangan kami ini di tanah leluhurnya, yang sempat kering kerontang karena pertengkaran.


Catatan

#Tidak lama kemudian Tuan Ringo menyusul ke Samosir, Namun tidak ke Urat tetapi ke Sirait, karena janji yang di ucapkannya sebelum meninggalkan kampung halamannya. Tuan Ringo Memulai hidup baru dan menjadi saudagar pertama yang membuka Onan (Pasar) di Sirait.

# Boru Sitompul memberikan tiga anak lagi bagi Tuan Ringo : Raja Rea, Tuan Onggar dan Siagian.

# Anak-anak Tuan Ringo:

1. Raja Dapoton/ Raja Hasahaton, Keturunanya sampai sekarang tetap mengunakan marga Situmorang

2. Raja Rea, Keturunanya sekarang menggunakan marga Siringo-ringo

3. Tuan Onggar, Keturunannya sekarang menggunakan marga Rumapea, Sipampang, dll

4. Siagian, Keturunannya sampai sekarang belum di ketahui. kemungkinan berkembang di Labuhan Batu.

3 komentar:

  1. Mohon maaf jika terlalu diteil,... buku ini sumbernya dari mana ya pak.tolong penjelasan nara sumbernya ya,..

    BalasHapus
  2. Kalau boleh tau,istri raja rea boru apa

    BalasHapus
  3. Siagian termasuk juga y, tp banyak yg tidak tau kl itu anaknya tuan ringo

    BalasHapus